Spanyol dan Maluku Utara (Rempah-Rempah/Penguasaan Wilayah)



SPANYOL DAN MALUKU UTARA
(Rempah-Rempah atau Penguasaan Wilayah)

Abad ke-13, rempah-rempah menjadi barang komoditi yang berharga. Terlebih setelah jatuhnya Konstantinopel ke tangan Turki Usmani yang membuat orang-orang di Eropa berlomba-lomba untuk mencari rempah-rempah ke daerah penghasil rempah-rempah yaitu di wilayah Asia. Tentu kita ingat dengan slogan bangsa Eropa kala itu yakni 3G (Gold, Glory, Gospel). Slogan 3G tersebut tidak lepas pada masa yang dikenal sebagai masa imperialisme. Bangsa Eropa yang melakukan penjelahan samudra salah satunya adalah Spanyol. Spanyol tidak saja ingin mencari rempah-rempah tetapi juga menjadikan rempah-rempah sebagai harta yang berharga dan juga menguasai wilayah penghasil rempah-rempah.
Pasti terdapat pertanyaan dibenak kita, mengapa bangsa Spanyol dan orang-orang Eropa harus bersusah payah mencari rempah-rempah? mengapa mereka tidak menanam atau menghasilkan rempah-rempah sendiri?. Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan terjawab apabila kita mengetahui iklim di dataran Eropa. Eropa mempunyai 4 musim dalam satu tahun yakni musim semi, musim gugur, musim panas, dan musim dingin. Sehingga kecil kemungkinan rempah-rempah dapat hidup, menginggat rempah-rempah biasa tumbuh subur pada iklim tropis. Iklim dingin yang melanda wilayah Eropa membuat orang-orang membutuhkan rempah-rempah untuk menghangatkan badan. Maka dari itu bangsa Eropa menjelajahi samudra untuk mencari daerah penghasil rempah-rempah.
Salah satu bangsa Eropa yang mencari rempah-rempah adalah bangsa Spanyol. Orang-orang Spanyol mencari rempah-rempah atas titah Raja Spanyol waktu itu, Raja Charles V. Cara ini dipilih untuk mencari rempah-rempah kedaerah penghasil rempah. Selain rempah-rempah waktu itu susah diperoleh, harganya juga sangat mahal. Maka dicari jalur alternatif untuk mendapatkan rempah-rempah yaitu membeli langsung ke tempat atau daerah penghasilnya. Dengan begitu rempah-rempah bisa dibeli dengan harga murah.

A.   Maluku dan Rempah-Rempah
Maluku merupakan jalur perdagangan dari Teluk Paksi atau Jazirah Arab kemudian melewati Gujarat, Malabar, Koromandel, Benggala sampai akhirnya ke Indonesia[1]. Selain itu Maluku juga penghasil rempah-rempah dengan kualitas terbaik. Awalnya bangsa Spanyol tidak mengetahui kalau Maluku penghasil rempah-rempah. Mereka mendapatkan info kalau di Malaka ternyata gudang rempah-rempah bukan penghasil rempah-rempah. Berbekal informasi tersebut Spanyol mencari kembali daerah penghasil rempah-rempah dan mendapati daerah Maluku dengan tidak sengaja.
Tentu banyak yang bertanya-tanya mengapa daerah Maluku menjadi pusat penghasil rempah-rempah? Padahal banyak daerah lain di bumi ini yang tanah nya subur. Untuk menjawab pertanyaan ini perlu diketahui satu hal kalau wilayah Maluku selain beriklim tropis juga wilayahnya tergolong subur dan sinar matahari ada sepanjang tahun. Sehingga rempah-rempah tumbuh subur disana. Selain itu cuaca yang terik juga menjadikan kualitas rempah-rempah Maluku menjadi kualitas yang terbaik di dunia.
Daerah Maluku menghasilkan rempah-rempah seperti cengkeh, pala, dan bunga pala. Tetapi yang menjadi magnet adalah cengkeh. Cengkeh banyak dihasilkan di daerah Ternate dan Tidore[2]. Kualitas cengkeh dari dua wilayah ini bisa dibilang kualitas premium. Maka tidak heran banyak pedagang selain Spanyol yang membeli cengkeh ke wilayah Maluku. Penyataan ini didukung oleh catatan Tome Pires dalam pelayarannya di Maluku tahun 1515, ketika bertemu dengan pedagang-pedagang Melayu:
“Tuhan telah menciptakan Timor untuk kayu cendana dan Banda untuk Pala serta Maluku untuk cengkih, dan barang dagangan ini tidak dikenal di tempat lain di dunia ini kecuali di tempat-tempat tadi; dan telah saya tanyakan dan selidiki dengan teliti apakah barang ini terdapat di tempat lain, dan semua orang katakan tidak”.[3]
  Cengkih menjadi kekayaan daerah Maluku. Pada awalnya tanaman ini tumbuh liar di pulau Ternate, Tidore, Moti, Makian, dan Kasiruta. Masyarakat setempat pada awalnya tidak melirik dan tidak berfikiran kalau tanaman yang tumbuh liar diwilayah mereka adalah tanaman yang mempunyai nilai jual yang sangat tinggi. Baru setelah ada pedagang yang mencari rempah-rempah terutama cengkeh, masyarakat Maluku menyadari nilai jual tanaman tersebut. Dan sekitar tahun 1450 cengkih dibudidayakan. Hal ini dimaksudkan supaya cengkeh yang tumbuh tidak cepat habis bila dipanen. Mengingat kalau hanya mengandalkan tanaman cengkeh yang tumbuh liar tentu hasil yang didapat tidak bisa stabil. Tetapi dengan dibudidayakan otomatis hasil cengkeh bisa dinikmati sepanjang tahun.
 Rempah-rempah yang melimpah  menyebabkan para pedagang Cina, Melayu, Jawa, Arab, Persia, dan Gujarat datang ke daerah Maluku dengan membawa tekstil, beras, perhiasan dan kebutuhan hidup untuk ditukar dengan rempah-rempah. Para pedagang asing tersebut meraup keuntungan berlipat ganda dari pada rakyat kerajaan-kerajaan Ternate, Tidore, dan Bacan penghasil rempah-rempah[4]. Harga rempah-rempah  sekitar abad ke-16 di Maluku 1 bahar (456 lb) seharga 1 sampai 2 ducat. Sedangkan di Calcutta sekitar 500 sampai 600 fanam (1 fanam = 1 real). Selisih harga yang begitu jauh menghasilkan untung yang sangat tinggi.
Para sultan, terutama Ternate dan Tidore yang menguasai pusat-pusat perdagangan rempah-rempah, juga menjadi kaya raya dan sangat makmur. Namun dengan kemakmuran yang diperoleh dari rempah-rempah berakibat dengan semakin tinggi persaingan diantara kerajaan-kerajaan di Maluku terutama kerajaan Tidore dan kerajaan Ternate. Terlebih dengan hadirnya pihak lain yang semakin memperkeruh suasana nantinya. Pihal lain disini adalah bangsa Eropa.
Bangsa Eropa akhirnya datang kedaerah Maluku salah satunya merupakan bangsa Spanyol. Kedatangan Spanyol ke Maluku menggunakan kapal Victoria. Ekspedisi ini dipimpin oleh Ferdinand Magellan. Pada tahun 1519 Magellan berangkat dari Spanyol melalui Samudra Atlantik. Kemudian melewati Amerika Selatan pada akhirnya melewati Samudra Pasifik dan sampai di Filipina tahun 1521. Sepanjang pelayaran Magellan, banyak terjadi perdebatan dan pertentangan antar awak kapal. Tiga kapal yang dikomandani oleh Luis de Mendoza, Juan de Cartagena dan Gaspar de Quesada melakukan pemberontakan. Namun pemberontakan tersebut dapat diatasi dan pelayaran pun dilanjutkan kembali.
Pada saat menghadapi perang antarsuku di Cebu, Magellan terbunuh. Ferdinand Magellan digantikan oleh Del Cano untuk melanjutkan perjalanan mencari rempah-rempah. Sampai akhirnya kapal Spanyol tiba di daerah Maluku. Spanyol datang untuk mendapatkan rempah-rempah yaitu cengkeh dan pala. Pada awalnya Spanyol hanya ingin membeli rempah-rempah, kemudian timbul keinginan untuk menguasai daerah penghasil rempah yaitu Maluku Utara[5]. Keinginan itu didasari dengan pikiran diantaranya:
  1. Menguasai daerah Maluku Utara otomatis rempah-rempah dapat dipergunakan untuk bangsa mereka sendiri. Sehingga mereka tidak kekurangan rempah-rempah.
  2. Rempah-rempah merupakan barang yang bernilai tinggi melebih emas pada masa itu, sehingga timbul keinginan untuk menjadikan rempah-rempah menjadi ladang emas.
  3. Memonopoli rempah-rempah otomatis menjadi kebanggaan bagi bangsa Spanyol dan bangsa-bangsa lain di Eropa menjadi hormat kepada Spanyol.
  4. Secara tidak langsung Spanyol dapat mengendalikan perekonomian dunia melalui rempah-rempah.

B.   Antara Spanyol dan Sultan Al Mansur (Tidore)
Spanyol mengirimkan 5 buah kapal yang dipimpin oleh Ferdinand Magellaan untuk menjelajahi samudra dalam rangka mencari daerah penghasil rempah-rempah. Magellan berangkat dari Spanyol pada tahun 1519. Tiba di Maluku Utara tepatnya Tidore tanggal 8 November tahun 1521. Namun hanya 2 kapal yang berlabuh di Tidore. Hal ini dikarenakan 3 kapal karam selama perjalanan dan juga akibat perang dengan suku di daerah Filipina. Termasuk tewasnya Ferdinand Magellan. Magellan digantikan Carvalhindo yang dibantu oleh Gonsalo Gomes de Espinosa dengan jumlah awak sebanyak 108 orang.  Sebenarnya spanyol tidak sengaja berlabuh ke Tidore karena mereka tengah berlayar menuju sebelah barat India[6]. Hal ini sesuai perjanjian Tordesilas dimana Spanyol mendapatkan hak atas wilayah sebelah barat India.
Tentu timbul banyak pertanyaan, mengapa daerah yang dipilih adalah Tidore padahal banyak daerah-daerah lain di Maluku Utara? Kenapa juga tidak memilih Ternate untuk mendapatkan rempah-rempah? Semua pertanyaan itu akan terjawab apabila kita melihat daerah yang potensial penghasil rempah-rempah di Maluku Utara saat itu adalah Ternate dan Tidore. Ternate sudah didatangi dan dikuasai oleh Portugis, jadi kecil kemungkinan Spanyol dapat diterima disana. Maka dari itu Spanyol berlabuh di Tidore untuk mendapatkan rempah-rempah yang selama ini mereka cari.
Kapal-kapal Spanyol tiba di Tidore sekitar pukul tiga sore pada tanggal 8 November 1521. Kedatangan Spanyol ke wilayah asing tentu akan menimbulkan banyak pertanyaan yang berputar-putar dikepala. Pertanyaan tersebut salah satunya apakah kedatangan mereka tidak diterima oleh raja dan masyarakat setempat. Pemikiran-pemikiran yang seperti itu pada akhirnya tidak terbukti. Karena yang terjadi adalah sebaliknya.
Spanyol datang di Tidore disambut hangat oleh Sultan Tidore yaitu Sultan Al Mansur. Padahal secara logika apabila bangsa asing masuk ke suatu wilayah, tentu akan menjadi ancaman bagi masyarakat wilayah itu sendiri. Tetapi bangsa Spanyol dengan mudahnya masuk ke Tidore dan direstui oleh raja Tidore. Bahkan Sultan Al Mansur memberikan tempat bagi Spanyol untuk melakukan perdagangan. Dua hari setelah kedatangan Spanyol, Sultan Al Mansur mengundang mereka ke istana di Mareku untuk jamuan makan siang. Dalam pembicaraan dengan kapten kapal, Raja mengizinkan mereka menggelar dagangannya di pasar.
Raja membantu membuatkan tempat berjualan dari bambu dan atap, sehingga terjadi perdagangan dengan sistem barter. Dimana Sepotong kain merah ditukar dengan cengkih satu bahar (550 pon), 50 pasang gunting dengan satu bokor cengkih, tiga buah gong dengan dua bokor cengkih. Dengan cepat seluruh cengkih di Tidore ludes, sehingga harus dicari di tempat lain seperti di Moti, Makian, dan Bacan[7]. Pigafetta, seorang sejarawan dan etnolog dari Italia yang juga datang bersama Spanyol, mencatat kejadian saat Spanyol tiba di Tidore:
Raja menyatakan kepada pimpinan armada bahwa ekspedisi ini diterima dengan senang hati di Tidore, dan Raja menambahkan bahwa sejak beberapa waktu lalu ia pernah bermimpi dalam tidurnya, bahwa akan datang beberapa kapal ke Maluku dari tempat yang agak jauh. Raja telah bertukar pikiran dengan bulan untuk memastikan kedatangan kapal-kapal yang kini telah berlabuh.  Ketika Raja akan naik ke kapal, semua pengiring mencium tangannya, dan para perwira kapal mengantarnya ke haluan. Ia memasuki haluan kapal dari geladak bagian atas. Setelah duduk di kursi berlapis beludru merah, Raja diselimuti dengan sebuah jubah beludru berwarna kuning model Turki. Untuk menampilkan penghoratan yang lebih agung, para perwira duduk bersila di depannya. Setelah semua duduk, raja angkat bicara. Ia menyatakan bahwa seluruh masyarakat Tidore rindu untuk menjalin persahabatan dan kesetiaan kepada Raja Spanyol.
Seluruh perwira dan awak kapal diizinkan turun ke darat, dan menurut raja, “Seluruh Tidore harus dianggap sebagai rumah kalian sendiri.” Nakoda kapal kemudian menyerahkan sejumlah hadiah: sebuah jubah, kursi Eropa, kain linen halus, sutra brokat, beberapa potong kain India yang dibordir dengan emas dan perak, berbagai rantai kalung dan manik-manik, tiga cermin besar, cangkir minum, sejumlah gunting, sisir, pisau serta berbagai benda berharga lainnya. Kepada puteranya dihadiahkan sepotong kain yang diaplikasikan dengan emas dan perak, sebuah jubah, sebuah cermin besar, dan dua buah pisau. Sembilan orang bobato yang menyertainya masing-masing memperoleh sepotong kain sutera, jubah, dan pisau[8].
Awalnya Spanyol hanya ingin membeli rempah-rempah kemudian berlanjut melakukan kerjasama dengan Kerajaan Tidore. Tidak hanya di bidang perdagangan tetapi juga dibidang militer. Salah satu kerjasama Spanyol dan Tidore adalah dibangunnya benteng Spanyol di Tidore. Bantuan yang didapat Spanyol di Tidore bisa dibilang sebagai hubungan timbale balik. Spanyol mendapatkan rempah-rempah dan mendapatkan hak monopoli perdagangan rempah-rempah di wilayah Tidore. Sebagai gantinya Spanyol harus membantu Tidore.
Spanyol bisa saja tidak membantu raja Tidore dalam hal ini Sultan Al Mansur. Tetapi hal ini tidak dilakukan Spanyol karena ingin membalas jasa dan kebaikan dari Sultan Al Mansur. Disamping itu dengan membantu Al Mansur tentu Spanyol dengan mudah mendapatkan rempah-rempah sebanyak-banyaknya dan secara tidak langsung menjadikan Tidore sebagai wilayah kekuasaannya. Sehingga keuntungan yang di dapat oleh Spanyol semakin banyak.
Tentu kita bertanya-tanya dibalik alasan Sultan Al Mansur menerima Spanyol dengan tangan terbuka. Padahal sikap tersebut cenderung menimbulkan banyak hal negatif, salah satunya dikuasainya Tidore.  Alasan-alasan Sultan Al Mansur menerima Spanyol dengan tangan terbuka diantaranya:
  1. Niat Sultan Al Mansur untuk memperkuat Tidore dibidang militer dengan bantuan Spanyol, mengingat teknologi militer Spanyol cukup mumpuni kala itu.
  2. Menunjukkan ke Raja Ternate bahwa kerajaan Tidore adalah kerajaan yang kuat terlebih didukung Spanyol.
  3. Ingin menyaingi Ternate yang terlebih dahulu dibantu oleh Portugis.
  4. Keinginan Sultan Al Mansur yang ingin menjadikan Spanyol sebagai alat penekan bagi Ternate.

C.   Dibalik Konflik Ternate dan Tidore
Perseteruan antara Ternate dan Tidore sudah berlangsung sejak abad ke-14. Saat itu Sida Arif Malamo bertahta di Ternate yaitu tahun 1322-1331. Ternate berhasil memindahkan pasar dan perdagangan rempah-rempah dari Hitu (Ambon) ke wilayah Ternate. Efeknya berimbas ke sektor ekonomi dimana perekonomian Ternate mulai maju terlabih dengan kedatangan pedagang dari Jawa, Melayu, Arab, Cina, dan Gujarat. Pesatnya perekonomian Ternate membuat iri kerajaan Tidore. Terlebih setelah kedatangan Spanyol dan bangsa asing lainnya membuat persaingan kerajaan Ternate dan Tidore menjadi persaingan yang tidak sehat[9].
 Sebenarnya, konflik yang terjadi antara Ternate dan Tidore yang berakhir peperangan disebabkan beberapa hal, yaitu:
1.    Kompetisi antara raja Ternate yaitu Sultan Bayan dengan raja Tidore yaitu Sultan Al Mansur yang sudah mencapai puncaknya.
2.    Kompetisi ini berhubungan dengan persoalan ekonomi kaitannya dengan penjualan rempah-rempah dan juga kerjasama masing-masing kerajaan dengan Negara asing yakni Spanyol dan Portugis dalam kaitannya dibidang militer.
3.    Berdasarkan perjanjian Tordesillas, Portugis memprotes kapal Magellan yang tiba di Maluku. Portugis merasa kalau Spanyol sudah melanggar perjanjian yang sudah disepakati. Perselisihan ini menemui jalan buntu karena kongres para ahli geografi dan navigasi Spanyol dan Portugis tidak sepakat mengenai letak persis Maluku.
4.    Campur tangan bangsa asing yakni Spanyol dan Portugis kedalam persoalan pemerintahan di kerajaan Tidore dan Ternate, terutama persoalan-persoalan internal kerajaan. Campur tangan ini semakin menambah permasalahan kerajaan Tidore dan Ternate.
Awalnya perselisihan demi perselisihan yang terjadi dapat diredam dengan Portugis memilih Ternate dan Spanyol memilih Tidore. Namun yang terjadi justru konfllik semakin meruncing antara Ternate dan Tidore. Terlebih setelah Spanyol datang ke Tidore. Hal ini membuat Portugis semakin geram kepada Spanyol dan mulai mendorong Ternate untuk menggempur wilayah Tidore. Walau yang sebenarnya berperang adalah Spanyol dan Portugis. Hanya saja mereka berperang dibawah bendera Ternate dan Tidore.
Sehingga pada akhir tahun 1524, Pasukan Ternate dan Portugis yang dipimpin oleh Wakil Sultan Taruwese dengan jumlah pasukan 600 orang menyerbu Tidore dan berhasil masuk ke ibukota Tidore yaitu Mareku. Mereka mengempur kota Mareku dengan membabi buta dan menghancurkan seisi kota. Walaupun sudah masuk kedalam jantung kota Tidore, tetapi Ternate dan Portugis tidak dapat menguasai kota tersebut seluruhnya. Akhirnya dengan bantuan Spanyol, Ternate dan Portugis bisa dikalahkan[10].
Kekalahan yang terjadi pada saat penyerbuan ke kota Mareku membuat Ternate dan Portugis semakin marah kepada Spanyol dan juga Tidore. Kekalahan tersebut tidak bisa diterima begitu saja oleh Ternate. Terlebih saat Ternate mengetahui bahwa Spanyol berlayar kesana kemari disetiap plosok perairan Maluku. Kebencian Ternate kepada Spanyol tidak lepas dari dorongan Portugis yang juga sangat membenci Spanyol. Ibarat minyak dengan air yang tidak bisa bersatu, seperti itulah Tidore dan Ternate yang semikin lama bukannya semakin akur tapi malah semakin berkonflik. Terlebih dengan hadirnya orang ketiga yaitu Spanyol dan Portugis.
Sekitar tahun 1526, lima kapal Spanyol berlayar dari Lisboa kearah Tidore. Terdiri dari 300 pasukan yang dipimpin oleh Martin Ignatius Karkafe. Karkafe berlayar ke Tidore melalui jalur yang dilalui oleh Magellan. Kedatangan Karkafe ke Tidore membuat Gubernur Portugis di Ternate yaitu Jorge de Menezes marah. Ia mengirim Manuel Fancon dan Wakil Sultan Taruwese ke Tidore untuk meminta penjelasan kepada Karkafe. Karkafe menjelaskan bahwa mereka datang ke Tidore atas perintah Raja Spanyol yakni Charles V. Dan menurut Karkafe, kedatangan mereka tidak menyalahi perjanjian yang sudah disepakati antara Spanyol dan Portugis dimana perjanjian tersebut adalah perjanjian Tordesilas. Hal ini karena Karkafe berlayar ke Maluku melalui jalur Magellan dan tidak melewati jalur timur dimana jalur tersebut milik Portugis. Sehingga sah-sah saja kalau Karkafe sampai atau tiba ke Maluku[11]. Alasan inilah yang nantikan dijadikan oleh Raja Spanyol yaitu Charles V untuk mengklaim kepulauan Maluku sebagai wilayah kekuasaan dari Kerajaan Spanyol.
Kebencian dan kemarahan yang semakin menumpuk kepada Spanyol membuat Portugis berperang dengan Spanyol. Perang tersebut melibatkan Ternate dan Tidore sebagai tuan rumah wilayah Maluku. Sehingga Tidore dibantu Spanyol sedang Ternate dibantu oleh Portugis. Perang yang terjadi tidak ada yang kalah maupun yang menang. Kedua belah pihak sama-sama kuat. Sehingga yang terjadi adalah kesengsaraan baik dalam bidang ekonomi maupun sosial. Pada bidang ekonomi kesengsaraan yang terjadi adalah semakin besar pengeluaran sedangkan pendapatan yang tidak seberapa. Hal ini karena sektor penyumbang perekonomian terbesar yakni pedagangan rempah-rempah menjadi terganggu akibat perang.
Sektor lain yang terkena dampak perang adalah sektor sosial, dimana kehidupan masyarakat Maluku terganggu. Karena mereka saling bertarung satu sama lain padahal mereka satu rumpun yaitu orang Maluku. Disamping itu kehidupan keluarga yang mereka tinggalkan juga tidak lebih baik. Karena mereka tidak bisa hidup dengan tenang, selalu hidup dengan rasa cemas dan khawatir kalau rumah mereka atau anggota keluarga mereka tewas dalam peperangan. Kalau kita ambil gambaran perang saat itu bisa kita lihat pada situasi Palestina dan juga Israel. Dimana kedua belah pihak saling bertempur satu sama lain. Kehidupan orang-orang Palestina juga tidak lepas dari rasa was-was, dan kekuatan mental sangat diperlukan saat perang. Sehingga kalau boleh dibilang perang itu pasti menimbulkan kesengsaraan.
Tentu yang menarik disini adalah siapa pihak yang berperang sesungguhnya. Spanyol dengan Portugis atau Tidore dengan Ternate. Padahal penjelasan sebelumnya menjelaskan persaingan sengit antara Tidore dan Ternate, tetapi pada saat memuncaknya konflik yang terjadi malah perselisihan antara Spanyol dan Portugis yang akhirnya timbul perang. Semua itu bisa kita analisis berdasarkan data-data dan penjelasan-penjelasan diatas yang sudah dijelaskan. Dan kesimpulan yang didapat adalah konflik yang terjadi sampai menimbulkan perang sebenarnya adalah konflik antara Spanyol dan Portugis. Alasan-alasan sampai menjadi kesimpulan tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Sejak awal sebelum kehadiran bangsa asing, Tidore dan Ternate sudah berkompetisi atau bersaing. Persaingan tersebut hanya menciptakan riak-riak konflik kecil. Konflik-konflik kecil tersebut dapat diatasi dengan baik oleh kedua belah pihak sehingga tidak sampai terjadi peperangan.
  2. Kalau memang antara Ternate dan Tidore terjadi perang, kenapa tidak terjadi sejak awal sebelum bangsa asing datang ke Maluku dan membantu mereka. Karena harus ingat kalau kerajaan Tidore dan Ternate masih memakai sistem musyawarah untuk mencari solusi. Bisa dibilang persaingan yang terjadi adalah persaingan sehat.
  3. Begitu bangsa asing masuk dan mencampuri urusan internal kerajaan Tidore dan kerajaan Ternate, membuat kedua kerajaan tidak dapat menahan persaingan yang seperti gunung meletus sudah masuk kategori awas.
  4. Konflik antara Spanyol dan Portugis semakin menambah kompleks konflik Ternate dan juga Tidore. Dorongan bangsa asing kepada kerajaan-kerajaan Maluku makin kuat dan tidak dapat ditahan sehingga terjadilah perang.
Alasan-alasan itu bisa diambil benang merah kalau sebenarnya Spanyol dan bangsa lain yang memanas-manasi kerajaan Ternate dan Kerajaan Tidore untuk berperang. Seperti kata pepatah sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Begitu pula yang terjadi dibalik konflik Tidore dan Ternate. Spanyol dan bangsa lain dapat menunjukkan kekuatannya berupa kekuataan disegi militer, menunjukkan kepada bangsa lain siapa yang terhebat antara Spanyol dan Portugis. Selain itu dengan mendapat kemenangan menunjukan siapa yang menjadi pemenang dan menguasai Maluku seutuhnya. Hal tersebut secara otomatis pemenang menjadi pemonopoli kekayaan Maluku yakni rempah-rempah.


D.   Spanyol Keluar dari Tidore
Hadirnya pihak ketiga yakni Spanyol dan bangsa lain yang memicu terjadinya perang antara Kerajaan Tidore dengan Kerajaan Ternate. Perang yang terjadi antara Spanyol dan Portugis membuat Paus sebagai pemimpin agama Katolik tertinggi turun tangan. Sehingga terjadilah perjanjian Zaragosa tanggal 22 April 1529. Perjanjian Zaragosa dibuat antara Raja Portugis yaitu John III dengan Raja Spanyol yaitu Charles V. Berisi tentang pembagian wilayah belahan bumi timur antara Spanyol dan Portugis, dimana wilayah Spanyol dari Mexico kearah barat sampai Filipina, sedang wilayah Portugis dari Brazil kearah timur sampai Maluku. Akibat perjanjian ini Spanyol harus pergi dari wilayah Tidore. Sebenarnya dibalik perjanjian Zaragosa terdapat beberapa hal yang menarik, yaitu:
  1. Paus sangat dihormati dan disegani di wilayah Eropa, mengingat bahwa waktu itu Abad 16 di mana disebut juga sebagai Abad Kegelapan. Pada abad itu semua orang termasuk raja sangat tunduk dan patuh kepada pemimpin agama. Sehingga begitu Paus turun tangan mengatasi konflik Spanyol dan Portugis, 2 negara tersebut langsung mengikuti saran Paus. Padahal bisa saja Spanyol tidak mengindahkan saran dari Paus. Tetapi pengaruh agama pada saat itu sangat kuat, yang menyebabkan Spanyol patuh dengan Paus sebagai pemimpin agama tertinggi.
  2. Selain perintah Paus, Spanyol keluar dari Tidore akibat diberi imbalan oleh Raja Portugis sebagai ganti rugi. Charles V sebagai Raja Spanyol di beri imbalan sebesar 350.000 ducats[12]. Ducats merupakan mata uang berupa koin emas yang dikeluarkan oleh Italia dan menjadi mata uang tukar pada saat pelayaran samudra kala itu. Mata uang Ducats dipakai juga oleh Spanyol, sehingga Raja Portugis memberikan mata uang ducats kepada Spanyol. Padahal Portugis sendiri mempunyai ukuran mata uang yang disebut dengan cruzados. Kalau diukur dengan mata uang cruzados, 350.000 ducats senilai dengan 500.000 cruzados. Tentu uang kompensasi ini banyak sekali nilainya.
Persoalan kompensasi yang diterima oleh Spanyol menjadi bahasan yang sangat menarik sekali dan tidak habis untuk dibahas. Hal yang menarik adalah mengapa Raja Portugis harus memberikan imbalan kepada Raja Spanyol? Padahal dengan adanya perjanjian Zaragosa saja sudah cukup. Kalau kita analisi, kompensasi yang diberikan Raja Portugis ke Raja Spanyol sebagai wujud kompensasi ke Raja Spanyol supaya Raja Spanyol mau melepaskan klaimnya atas Tidore kepada Portugis. Jadi imbalan tersebut sebagai ikatan agar Spanyol menepati perjanjian sepenuhnya. Ibarat menggusur rumah, walau sudah ada perjanjian tetap saja harus ada ganti rugi seperti uang kerohiman supaya keadaan terkendali.
Kompensasi berupa 350 ducats yang diberikan Raja Portugis kepada Raja Spanyol tidak serta merta membuat orang-orang Spanyol keluar dari wilayah Maluku sepenuhnya. Orang-orang Spanyol baik yang dikirim langsung dari Spanyol maupun dari wilayah Mexico masih datang ke Maluku[13]. Pelayaran dari Spanyol ke Maluku tidak melalui jalur pelayaran Magellan. Tetapi melalui Spanyol Baru atau yang lebih dikenal dengan Mexico dengan melalui Samudra Pasifik. Waktu tempuh dengan melewati jalur tersebut pun lebih singkat dibanding harus melewati jalur Magellan.
Orang-orang Spanyol tidak serta merta pergi dari Tidore dikarenakan mereka masih sangat tergantung dengan rempah-rempah dari Tidore. Selain itu, hubungan baik antara kerajaan Tidore dan kerajaan Spanyol tidak bisa diputus begitu saja. Mengingat kedua belah pihak mempunyai kerjasama baik disektor politik, ekonomi maupun militer. Kalaupun terjadi pemutusan hubungan tentu hal ini akan merugikan Spanyol. Walau Spanyol sudah mendapatkan kompensasi supaya meninggalkan Tidore, tetapi tidak begitu saja ditinggalkan.

E.   Kepergian Spanyol dari Tanah Maluku Utara
Tahun 1580 M Spanyol dan Portugis bekerjasama menguasai Maluku dibawah pimpinan Raja Spanyol. Seluruh benteng Portugis dan Spanyol di Maluku dapat digunakan keduanya. Kedua belah pihak bersatu dibawah sebuah uni. Oerasi-operasi di Maluku langsung dibawah Gubernur Jenderal Spanyol di Filipina. Dengan menempatan Maluku dibawah Filipina otomatis Maluku menjadi wilayah kekuasaan Spanyol. Bisa diartikan wilayah Maluku sebagai sebuah koloni dari Spanyol.
Gubernur Jenderal Spanyol di Manila, Don Pedro da Cunha mengirimkan armada dari Manila untuk menduduki Ternate. Hal ini karena VOC bekerjasama dengan Kesultanan Ternate. Armada Spanyol mengempur Benteng Gamlamo dengan bantuan Tidore yang dipimpin Sultan Mole Majimu dan berhasil menguasainnya. Tahun 1603 M Ternate meminta bantuan VOC untuk menghalau serangan Spanyol yang dibantu Tidore. Para ulama Ternate juga mendukung keputusan melawan Spanyol dan Tidore dengan bantuan VOC. Sebelumnya Ternate bekerja sama dengan Mindanao untuk melawan Spanyol tapi gagal yang mengakibatkan Sultan Said Barakati dibuang ke Manila oleh Spanyol[14].
Gubernur Spanyol yaitu Don Pedro da Cunha juga melakukan penyerbuan ke benteng Gamlamo dan berhasil mendudukinya. Otomastis kota Gamlamo sendiri dikuasai oleh Spanyol. Tapal batas wilayah Ternate (VOC) dengan wilayah kekuasaan Spanyol mulai dari Kalumata, sekitar satu kilometer di sebelah selatan benteng Kalamata yang ditempati oleh VOC[15]. VOC menempati benteng Kalamata untuk sementara. Karena benteng tersebut dapat diambil alih oleh Spanyol sampai nanti Spanyol meninggalkan Maluku pada tahun 1663. Kejadian ini menyebabkan wilayah Ternate terpecah menjadi tiga bagian. Tiga bagian ini mempunyai tiga pula penguasa, yaitu:
1.    Wilayah Ternate Utara dikuasai oleh Kerajaan Ternate.
2.    Wilayah Ternate Tengah dikuasai oleh kongsi dagang Belanda yaitu VOC. Daerah ini mulai dikuasai oleh VOC sejak tahun 1607.
3.    Wilayah Ternate Selatan dan Ternate Barat dikuasai oleh Spanyol.
Sekitar tahun 1606 armada Spanyol mulai menduduki Ternate dan Tidore. Disini terjadi perang antara VOC (Belanda) dengan Spanyol. Akibat perang yang terjadi antara VOC dengan Spanyol mengacaukan arus rempah-rempah melalui Antwerp. Seperti halnya pada waktu perang dengan Portugis, Spanyol bersaing sengit dengan VOC. Spanyol tidak begitu saja mau mengalah dengan VOC. Terlebih kalau dilihat kurun waktunya, Spanyol lebih dulu sampai di Maluku. Kekuasaan atas Maluku yang Spanyol dapat dipertahankan sampai titik darah penghabisan. Spanyol mualai menghalalkan segala cara untuk mempertahankan kekuasaan mereka di Maluku. Salah satu caranya adalah dengan mengintimidasi raja-raja di kerajaan-kerajaan Maluku. Namun efek samping dari cara ini adalah banyak raja-raja yang meminta perlindungan dan bantuan kepada VOC.
Terdapat suatu kejadian yang pada akhirnya menjadikan Kesultanan Ternate berpihak kepada VOC. Kejadian ini terjadi pada tahun 1606 dimana Spanyol menangkap dan mengasingkan Sultan Saidi. Sultan Saidi merupakan raja dari Kesultanan Ternate. Akibat dari kejadian ini, Kesultanan Ternate mengirim utusan untuk meminta bantuan kepada VOC. Ternate berharap agar Sultan atau Raja mereka bisa dibebaskan dari Spanyol. Kesultanan Ternate dengan VOC membuat kesepakatan dimana Ternate memberikan kemudahan kepada VOC untuk membangun benteng, pemukiman, pengambilan keputusan dalam pemerintahan dalam bentuk memberikan wilayah eksklusif.
Hal yang paling penting dan tidak ketinggalan adalah hak memonopoli rempah-rempah di wilayah Ternate. Maka dengan kesepakatan yang ditawarkan oleh Ternate, VOC yang dipimpin oleh Laksamana de Jonge datang ke Spanyol di Maluku. Spanyol yang menerima kedatangan dari VOC tidak gentar atau takut sama sekali. Malah hal ini memberikan semacam motivasi untuk Spanyol dalam menguasai wialayah Maluku.
Spanyol mulai melakukan serangan pada tahun 1611 dengan melibatkan Tidore, mereka menyerbu Jailolo, Sahu dan juga Gamkonora. Penyerbuan ketiga wilayah tersebut sukses menjadikan Spanyol menguasai ketiga wilayah itu. Disamping itu, Spanyol juga membangun sebuah benteng kecil di Leman Koura atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ngade. Benteng tersebut diberi nama San Pedro y Palelo atau Don Gil[16]. Benteng tersebut sekarang berada dikota yang bernama Kota Janji. Selain membengun benteng, Spanyol juga membangun pemukiman yang bernama Ave Taduma di pantai selatan Ternate dengan pusat kekuasaat berada di Gamlamo.
Berjalannya waktu Belanda lewat VOC dengan mudah merebut hati rakyat Maluku terutama diwilayah Ternate. Disisi lain, rakyar Maluku semakin tidak suka dengan Spanyol. Sehingga banyak terdapat perlawanan rakyat Maluku melawan Spanyol. Tahun 1603, terjadilah perang antara Spanyol dan Ternate, dimana Ternate dibawah kepimpinan Sultan Said. Perang tersebut dimenangkan oleh pihak Spanyol. Konsekuensi yang diterima ternate akibat kalah perang adalah diasingkannya Sultan Saidi ke Manila, Filipina[17].
Tahun 1623, Guberner Spanyol yang bernama de Heridia menyerahkan surat kepada Sultan Mudaffar dan Ibu Suri di Ternate. Surat tersebut berasal dari Saidi (mantan Sultan Ternate) yang diasingkan Spanyol di Manila. Surat tersebut berisi mengenai keadaan Saidi, dimana Saidi diperlakukan baik dan terhormat oleh pemerintahan Spanyol disana. Disamping membawakan surat dari Saidi, de Heridia juga membawa lukisan cat minyak buatan Saidi buat Sultan Mudaffar. Sejak saat itu hubungan Ternate dengan Spanyol kembali membaik dan kembali berhubungan seperti dulu[18].
Kondisi seperti itu banyak menimbulkan tanda tanya, apakah benar surat dan lukisan tersebut dibuat oleh Saidi? Kalaupun dibuat oleh Saidi, Saidi menulisnya berdasarkan kebenaran ataukah paksaan? Mengapa pula Spanyol bersusah payah mengirimkan Gubernurnya ke Ternate hanya untuk mengirimkan titipan Saidi? Nah pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat kita bahas satu-satu. Dimulai dengan kebenaran surat dan lukisan Saidi, yang bisa saja surat tersebut hanya taktik dari Spanyol untuk mengambil hati dari pihak Kesultanan Ternate. Kebenaran dari perlakuan Spanyol kepada Saidi juga masih dipertanyakan. Selain itu kalau benar surat tersebut tulisan tangan Saidi, harus diselidiki pula saat menulis Saidi dipaksa apa tidak. Karena kalau memang Saidi diperlakukan dengan baik dan terhormat oleh pemerintahan Spanyol, mengapa setelah sekian lama diasingkan baru menulis surat. Terlebih bertepatan dengan hubungan antara Spanyol dan Ternate yang berkonflik. Kalaupun diperlakukan baik, mengapa pula Saidi harus terus diasingkan. Padahal dengan mengembalikan Saidi malah bisa merebut hati Ternate kembali.
Awalnya Spanyol berencana mengembalikan Saidi untuk merebut hati Ternate kembali. Tetapi cara ini dinilai kurang efektif. Gubernur Jendral Spanyol di Manila, Don Juan de Silva menganggap kalau cara ini malah bisa menghancurkan Spanyol balik. Seperti senjata makan tuan. Terlebih saat pasukan Ternate bergabung VOC untuk menghancurkan Spanyol, menambah keraguan dari de Silva. Keraguan ini didasari oleh pemikiran de Silva kalau sampai Saidi dibebaskan otomatis Kesultanan Ternate bukannya baik kepada Spanyol malah semakin memberontak kepada Spanyol. Saidi bisa menjadi senjata untuk menghalau tindakan-tindakan Kesultanan Ternate apabila mereka mulai anarkis. Bisa dibilang kalau Saidi sebagai sandera hidup bagi Spanyol untuk memuluskan rencananya menguasai kembali wilayah Maluku terutama Ternate yang mulai memberontak.
Sehingga kalau ditelisik lebih dalam, semua mengenai Saidi adalah taktik Spanyol agar Ternate kembali kedalam kekuasaan mereka. Cara ini adalah cara halus, mengingat cara secara kasar berupa paksaan tidak dapat dilakukan secara maksimal. Dengan cara seperti ini, Kesultanan Ternate kembali membuka pintu bagi Spanyol untuk kembali ke Ternate dan mengusir VOC secara perlahan dari wilayah Maluku. Cara ini bisa dibilang ampuh untuk merebut hati Kesultanan di Maluku tapi cara ini juga tidak dapat bertahan semakin lama. Hal ini karena Spanyol semakin kalah bersaing dari VOC, dimana VOC semakin efektif melancarkan wilayah kekuasaannya di tanah Maluku.

Akhirnya pada tahun 1663, Spanyol menyerahkan sisa-sisa pos-pos mereka di Ternate dan Tidore. Sehingga tahun 1667 secara resmi Tidore dikuasai oleh VOC[19]. Tanggal 2 Juni 1663, orang-orang Spanyol yang terakhir pergi meninggalkan Maluku. Mereka berangkat dari Gamlamo ke Manila dipimpin Gubernur Spanyol yang terakhir yang bernama Don Francisco de Attienso. Mereka menumpang 4 buah kapal, masing-masing kapal bernama Calamata, Santa Lucia, Don Giela, dan Galei. Dengan kepergian mereka maka berakhirlah kependudukan Spanyol selama 142 tahun dari tahun 1521-1663 di wilayah Maluku.

Penutup
Kalau kita menjawab pertanyaan apakah Spanyol datang hanya ingin mendapatkan rempah-rempah atau ingin menguasai wilayah? Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah pada awalnya ingin mendapatkan rempah-rempah kemudian begitu mendapatkan rempah-rempah timbul hasrat atau keinginan untuk menguasai daerah penghasil rempah-rempah yaitu Maluku. Seperti slogannya waktu itu, 3G (Gold, Glory, Gospel). Rempah-rempah bisa diartikan sebagai tambang emas yang bisa membuat makmur. Supaya tambang tersebut tidak jatuh ke tangan lain maka harus dikuasai sehingga tambang emas tersebut menjadi milik Spanyol. Kesepakatan antara kerajaan Tidore juga makin memuluskan usaha Spanyol untuk menjadikan negaranya makmur dan kaya raya berkat rempah-rempah.
Apabila dilihat secara bertahap, tahun 1512 adalah awal sejarah perdagangan rempah-rempah yang penuh dengan historis yang panjang dan berliku-liku. Konflik yang membumbui perdagangan rempah-rempah juga member warna yang berarti bagi Maluku. Perselisihan antar kerajaan diwilayah Maluku dan juga dengan bangsa asing dalam hal ini Spanyol yang sama-sama memperebutkan satu hal yakni rempah-rempah. Konflik yang terjadi dikarenakan perebutan untuk menguasai rempah-rempah baik dalam hal mendapatkan maupun dalam hal perjualan. Sehingga lebih mengarah kepada monopoli sepihak. Akibat perselisihan ini menimbulkan kesengsaraan terutama dalam hal kehidupan sosial masyarakat Maluku. Pada akhirnya menggikis kedaulatan kerajaan-kerajaan di wilayah Maluku, terutama kerajaan Ternate dan Tidore sebagai kerajaan terbesar.
Rempah-rempah yang menjadi perebutan merupakan barang yang mahal pada waktu itu. Bahkan nilai jualnya melebihi nilai emas. Hal ini lah yang menyebabkan bangsa asing terutama Spanyol berlomba-lomba untuk mencari daerah penghasil rempah-rempah. Niat awal memang untuk mencari rempah-rempah sesuai perintah dari Raja Spanyol. Tetapi begitu rempah-rempah didapat muncul niat untuk lebih dari mendapatkan rempah-rempah yaitu mendapatkan rempah-rempah sebanyak-banyaknya dan menguasai wilayah Maluku sebagai penghasil rempah-rempah.
Keinginan Spanyol yang ingin mengamankan rempah-rempah Maluku supaya tidak jatuh ketangan bangsa lain karena ingin mendapatkan kekayaan. Tentu akan menjadi pertanyaan mengapa rempah-rempah bisa mendatangkan harta yang melimpah? Seperti penjelasan diatas bahwa rempah-rempah lebih mahal dari pada emas. Ini dikarenakan rempah-rempah susah didapat sedangkan emas bisa didapat dengan mudah kerena barangnya ada. Maka dengan Spanyol mendapatkan rempah-rempah dan menguasai wilayah Maluku otomatis mereka bisa mengendalikan harga rempah-rempah dipasaran sesuka hati mereka.
Maka tidak heran begitu bangsa lain menginginkan hal yang sama seperti Spanyol, Spanyol berusaha mempertahankan eksistensi mereka di Maluku. Tidak dengan mudah pergi begitu saja walau waktu itu Paus sebagai pemimpin tertinggi ikut turun tangan untuk menghentikan pertikaian. Spanyol dengan mudah menebarkan pesona kepada Sultan Al Mansur dan membuat Sultan Al Mansur tidak mengira kalau kedaulatan kerajaannya bisa terkikis tanpa dia sadari. Tidak hanya kerajaan Tidore, tetapi kerajaan Ternate juga mengalami hal yang sama.
Spanyol memang pada akhirnya tidak dapat mempertahankan kekuasaannya di Maluku akibat kalah perang dari kongsi dagang Belanda yang bernama VOC. Akibatnya Spanyol harus keluar meninggalkan Maluku yang selama ini menjadi tambang emas bagi Spanyol. Tentu hal tersebut sangat merugikan bagi Spanyol. Tetapi mau bagaimana lagi karena selain menghadapi VOC, Spanyol juga menghadapi kerajaan-kerajaan di Maluku yang melakukan pemberontakan dan bekerjasama dengan VOC dalam melawan Spanyol. Sungguh menyedihkan, Spanyol yang berkuasa di Maluku selama 142 tahun harus berakhir dan meninggalkan Maluku dalam waktu yang tidak lama dibanding dengan masa berkuasanya.
Kepergian Spanyol membawa dampak yang positif bagi Kerajaan Ternate dan Kerajaan Tidore. Kedua belah pihak akhirnya berdamai demi keutuhan Maluku setelah sekian lama berkonflik. Perdamaian tersebut dilakukan oleh Sultan Saifuddin dari Tidore kepada Sultan mandar Syah dari Ternate. Perdamaian itu dilakukan melalui pesan yang berisi tentang keinginan dari Tidore untuk menjalin hubungan baik dengan Ternate. Sehingga hubungan tersebut dapat menciptakan perdamaian di Maluku dan mengakhiri konflik yang tiada hentinya. Keinginan tersebut mendapat lampu hijau dari Ternate, karena mereka juga lelah dengan konflik yang selama ini terjadi. Perdamaian ini sukses terwujud karena tidak ada pihak ketiga yang ikut campur antara Ternate dan Tidore. Sehingga kesepakatan ini berjalan mulus.

DAFTAR PUSTAKA

Abdulrachman, Paramita R. 2008. Bunga Angin Portugis di Nusantara, Jejak-Jejak Kebudayaan Portugis di Indonesia. Jakarta: LIPI press
Amal, M Adnan. 2006. Kepulauan Rempah-Rempah: Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250-1950. Depok: Komunitas Bambu
Kartodirdjo, Sartono. 1987. Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500-1906 dari Emporium sampai Imperium Jilid I. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Pradjoko, Didik dan Friska Indah Kartika. 2014. Pelayaran dan Perdagangan Kawasan Laut Sawu. Jakarta: Wedatama Widyasastra
Ricklefs, M. C. 1999. Sejarah Indonesia Modern. Yogjakarta: Gadjah Mada University Press
Suyono, Capt. R. P. 2003. Peperangan Kerajaan di Nusantara Penelusuran Kepustakaan Sejarah. Jakarta: Grasindo
Widiyatmoko, Bayu. 2014. Kronik Peralihan Nusantara Liga Raja-Raja Hingga Kolonial. Yogyakarta: Mata Padi Pressindo


[1] Sartono Kartodirjo, Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500-1906 dari Emporium sampai Imperium Jilid I, Gramedia, Jakarta, 1987, hal.1-2
[2] Didik Pradjoko dan Friska Indah Kartika, Pelayaran dan Perdagangan Kawasan Laut Sawu, Wedatama Widyasastra, Jakarta, 2014, hal. 64-65
[3] M. Adnan Amal, Kepulauan Rempah-Rempah: Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250-1950, Komunitas Bambu, Depok, 2006, hal. 142
[4] Amal. Op. Cit. hal. 142
[5] Bayu Widiyatmoko, Kronik Peralihan Nusantara Liga Raja-Raja Hingga Kolonial, Mata Padi Pressindo, Yogyakarta, 2014, hal. 27
[6] Capt. R. P. Suyono, Peperangan Kerajaan di Nusantara Penelusuran Kepustakaan Sejarah, Grasindo, Jakarta, 2003, hal. 35-36
[7] Amal. Op.cit. hal. 96-97
[8] M. Adnan Amal, Kepulauan Rempah-Rempah: Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250-1950, Komunitas Bambu, Depok, 2006, hal. 96-97
[9]Amal. Op.cit. hal 115-116
[10] Bayu Widiyatmoko. Op.cit. hal 203-204
[11] Amal. Op.cit. hal.99
[12]  Bayu Widiyatmoko. Op. cit. hal 217-218
[13] Amal. Op.cit. hal.99
[14] Bayu Widiyatmoko. Op. cit. hal 308-309
[15]Amal. Op. cit . hal. 155-156
[16] Amal. Op. cit. hal. 156
[17] Paramita R. Abdurachman, Bunga Angin Portugis di Nusantara, Jejak-Jejak Kebudayaan Portugis di Indonesia, LIPI Press, Jakarta, 2008, hal.99-100
[18] Amal. Op. cit, hal. 156-157
[19] M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern, Gadjah Mada University Press, Yogjakarta,  1999, hal. 41, 42 & 97

Comments

Popular posts from this blog

SEJARAH DAN PETA KONSEP

Rumah Adat Kudus Bagian I

ORDE BARU